surat yang ditujukan kepada ibu siswa SD di NTT
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Meninggalnya YBS (10), murid kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga bunuh diri, dianggap sebagai tragedi kemanusiaan yang mencerminkan kegagalan banyak pihak dalam melindungi anak.
Pengamat Perlindungan Perempuan dan Anak, Dra. Sandra Liza, menyebut peristiwa tersebut bukan sekadar soal kemiskinan, melainkan akumulasi persoalan mental yang tidak terdeteksi dan tidak tertangani.
“Anak-anak itu sebenarnya banyak mengalami mental illness yang tidak disadari. Faktor penyebabnya kompleks, baik internal maupun eksternal. Salah satunya generation gap,” ujar Sandra kepada fajar.co.id, Selasa (3/2/2026).
Dikatakan Sandra, anak-anak generasi Alpha menghadapi tantangan yang jauh lebih berat dibanding generasi sebelumnya. Sayangnya, mereka justru minim support system.
“Generasi X, milenial, Gen Z, dan Gen Alpha punya cara berpikir yang berbeda. Anak-anak Gen Alpha menghadapi tantangan luar biasa, tapi kurang mendapat dukungan yang cukup,” sebutnya.
Putus Asa yang Terpendam Lama
Kasus YBS mencuat setelah diketahui bahwa sang anak meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp10 ribu. Namun permintaan itu tak terpenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Sandra mengatakan, kondisi tersebut bisa menjadi pemicu tekanan psikologis yang lebih dalam.
“Dalam kasus NTT ini, sangat mungkin ada masalah mental illness yang berkaitan dengan kemiskinan, kekecewaan, dan kesedihan yang terpendam,” jelasnya.
Ia menerangkan, stres yang tidak tertangani dalam waktu lama dapat berkembang menjadi depresi.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:















































