Seorang guru honorer bernama Agustinus terpaksa menumpang truk untuk menghemat.
FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Dedikasi tinggi tak selalu beriringan dengan gaji tinggi. Itu yang dirasakan Agustinus Nitmani, guru honorer asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang telah mengabdi selama 23 tahun.
Agustinus kini mengajar di SD Negeri Batu Esa, Kecamatan kupang Barat, Kabupaten Kupang, NTT. Kariernya sebagai pendidik dimulai di SD Inpres Sumlili, NTT.
Namun pada 2009, dia dipercaya merintis sebuah SD. Sekolah itulah tempatnya mengabdi sampai saat ini.
“Saya kurang lebih 23 tahun mengabdi, dari tahun 2004 sampai sekarang,” kata Agustinus, dikutip dari YouTube Watchdoc Documentary, Senin (26/1/2026).
Jarak SD Negeri Batu Esa dengan rumahnya hampir 4 kilo meter. Tiap pagi, dia menumpang kendaraan yang lewat depan rumahnya untuk ke tempatnya mengajar.
Kadang-kadang, dia menumpangi truk. Berdiri di bagian belakang. Itu dilakukan agar dirinya bisa menghemat, tak perlu keluar ongkos untuk transportasi.
Pasalnya, gajinya sebagai guru honorer sangat minim. Saat baru jadi guru di tahun 2004, gajinya hanya Rp50 ribu per bulan, lalu naik jadi Rp200 ribu pada 2017, kemudian Rp600 ribu pada 2021.
“Hasil begini, kita tidak bisa membiayai rumah tangga, bahkan makan minum juga tidak cukup,” ujar Agustinus.
Belum lagi, gaji yang sedikit itu tidak tiap bulan dia terima. Kadang tiga bulan sekali, kadang enam bulan sekali.
Kondisinya makin runyam beberapa waktu belakangan ini, terutama sejak program MBG terlaksana. Aturan baru yang keluar, membuat gaji guru honorer dipangkas.
“Tapi semester yang sekarang, masuk semester 2 ini, gaji kami dikurangi,” imbuh Agustinus.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:















































