Sayuran Sub-Tropis di Negeri Tropis: Urbanisasi, Konsumsi, dan Risiko Lereng

1 week ago 24
Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial

Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial

Di negeri yang mataharinya setia sepanjang tahun, sayuran sub-tropis tumbuh seperti tamu yang diterima dengan karpet merah. Kentang, kol, kubis, paprika berjajar rapi di lereng gunung. Dari kejauhan,  indah dipandang mata. Namun keindahan itu menyimpan kisah lain, kisah tentang perubahan zaman, desakan kota, dan tanah yang perlahan kehilangan penopangnya.

Negeri tropis ini sesungguhnya telah lama akrab dengan tanaman keras. Pohon berakar dalam yang memijat tanah, memeluk lereng dengan kesabaran. Akar-akar itu bekerja tanpa suara, menahan lapisan bumi dari rayuan gravitasi dan hujan yang turun tanpa kompromi. Tetapi waktu berubah. Kota membesar, lidah manusia berubah selera, pasar menuntut sayuran segar, seragam, cepat panen. Maka lereng gunung pun “dipinjam” untuk memenuhi selera kota.

Urbanisasi bukan sekadar perpindahan manusia. Ia adalah migrasi cara hidup. Dari sawah ke pasar, dari kebun beragam ke monokultur, dari kesabaran ekologi ke kecepatan ekonomi. Lereng yang dulu ditumbuhi pepohonan kini diganti barisan sayuran berumur pendek. Akar-akar dangkal bekerja singkat, tak sempat membangun ikatan panjang dengan tanah. Panen datang cepat, keuntungan berputar, tetapi tanah menua sebelum waktunya.

Penelitian sosial dari Jurnal UIN Alauddin Makassar (2022) mengenai kawasan pegunungan menunjukkan bahwa booming komoditas kentang, wortel, dan kol memicu perubahan sosial dalam komunitas tani, mempercepat introduksi pola produksi pasar yang intensif, fokus pada hasil hortikultura untuk pasar kota. Ini menggeser petani dari pola subsisten yang beragam menuju intensifikasi.  Tanah bukan sekadar sumber pangan tetapi modal ekonomi pasar.
Secara ilmiah, kita tahu bahwa pertanian di kawasan miring memiliki risiko inheren. Vegetasi yang kuat dengan akar dalam  seperti pohon, semak keras, atau agroforestri memegang tanah bersama. Membentuk struktur yang tahan terhadap curah hujan dan gravitasi. Tanpa akar kuat , tanah menjadi “liar”, mudah tercabut oleh hujan deras atau getaran ringan.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Rakyat news| | | |