Oleh: Fajrin Syam
(Aktivis Pertuni Sulsel)
Kata “pergi” sering disalahartikan. Padahal, hakikatnya tiada sesuatu yang benar-benar pergi; semua hanya berpulang ke tempat asal yang sesungguhnya.
Sabtu malam (24/01/2026) sepulang menunaikan salat Isya, aku tersentak saat memeriksa ponsel. Ada beberapa panggilan tak terjawab. Tak lama kemudian, ponsel itu berdering lagi, dan terpampang di layar nama seorang junior yang juga alumni Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia (YAPTI).
Tanpa bertele-tele, ia berkata, “Dapat maki kabar?”
Sesaat, otakku mencerna frasa itu, lantaran ungkapan tersebut kerap digunakan ketika ada sesuatu yang kurang menyenangkan. Aku pun menjawab bahwa aku baru memegang ponsel dan belum mengetahui kabar apa pun.
Ia lalu mengabari bahwa sang pejuang tunanetra Sulawesi Selatan telah berpulang, Pak Haji Dharma Pakilarang—seorang tokoh penting dalam sejarah pendidikan tunanetra di Indonesia.
Mendengar kabar itu, terbersit penyesalan karena aku tidak sempat menjenguk beliau untuk terakhir kalinya pada Jumat siang.
Ketika aku mengecek grup-grup WhatsApp tunanetra, ternyata kabar tersebut telah ramai. Silih berganti mereka menyampaikan doa, rasa kehilangan, dan tentu saja kkesedihan.

Semalaman aku berpikir, mengapa aku seperti orang yang hanya bisa bengong—diam, tak banyak bicara—sementara otakku tak berhenti mengingat beliau.
Bisa dibilang, aku memang salah satu generasi belakangan di YAPTI. Namun, wejangan beliau masih terngiang. Cerita-cerita beliau saat menuntut ilmu di Yogyakarta masih melekat dalam ingatan, termasuk kisah bagaimana beliau mempelajari Al-Qur’an Braille di tengah keterbatasan sarana pada masa itu.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:















































