Abil Sudarman. (Tangkapan layar video)
Fajar.co.id, Jakarta -- Seorang kreator konten mengaku menjadi sasaran serangan siber beruntun setelah mengkritik praktik rekrutmen sebuah perusahaan teknologi. Persoalan ini menyoroti kerentanan data pribadi puluhan ribu pelamar kerja yang diduga dapat diakses publik.
Kreator bernama Abil Sudarman (@abilsudarman) pertama kali mengunggah video yang mengkritik lowongan kerja dari perusahaan Komdigi. Dalam unggahan yang viral itu, Abil mempertanyakan kejanggalan proses lamaran.
Ia menemukan bahwa data para pelamar, yang dikumpulkan melalui formulir Google, ternyata dapat diakses secara terbuka melalui tautan Google Drive yang dibagikan.
"Ini berbahaya. Data ribuan orang, termasuk CV, foto KTP, dan informasi pribadi lain, bisa dilihat siapa saja," ujar Abil dalam videonya, seperti dikutip dari unggahan @folkyogya, Jumat (30/1/2026).
Temuan ini langsung memicu kekhawatiran luas di kalangan netizen mengenai potensi kebocoran data dan dugaan pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).
Gelombang Serangan Digital Menyusul Viral
Tak lama setelah video kritiknya ramai diperbincangkan, Abil melaporkan serangkaian gangguan pada akun dan sistem digital miliknya. Ia mengalami lonjakan trafik mencurigakan yang diikuti oleh serangan siber beruntun.
Meski detail teknis serangan tidak dijelaskan lebih lanjut, insiden ini memperkuat kesan adanya upaya pembalasan atau upaya menghentikan kritik yang disampaikannya.
Viralnya kasus ini menyadarkan publik akan risiko di balik pengumpulan data digital. Praktik yang dikritik Abil dinilai sangat rentan menyebarkan data sensitif tanpa pengamanan yang memadai. Para pelamar kerja, yang biasanya memberikan informasi paling pribadi, berada dalam posisi yang tidak terlindungi.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:















































