Fotoyu Mimpi Buruk Buat Privasi?

1 week ago 27
Andi Muhammad Fathir Aras, Mahasiswa Politeknik STIA LAN Makassar

Oleh: Andi Muhammad Fathir Aras, Mahasiswa Politeknik STIA LAN Makassar

“Apakah kita masih berlari untuk diri sendiri, atau justru sedang berlari meninggalkan privasi kita?” Dalam beberapa tahun terakhir, tren lari di indonesia mengalami peningkatan yang sangat signifikan.

Pasca-Pandemi disebut-sebut sebagai momentum yang menginisiasi masyarakat indonesia untuk menerapkan pola hidup sehat. Dari data GoodStats, sepanjang tahun 2024 sampai 2025 peningkatan aktivitas lari masyarakat Indonesia meningkat sebesar tiga sampai empat kali dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Seiring meningkatnya tren lari, munculnya budaya baru yang dikenal dengan fenomena pelari ‘Kalcer’ yaitu pelari yang tidak hanya berlari untuk mencari kesehatan saja, tetapi juga untuk bergaya dan mengejar eksis di media sosial. Kegiatan lari kini sering diabadikan dalam bentuk foto maupun video untuk dibagikan di media sosial. Situasi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh aplikasi seperti Fotoyu.

Dengan memanfaatkan tingginya kebutuhan dokumentasi visual dalam tren lari, Fotoyu menawarkan layanan penjualan foto hasil jepretan fotografer. Di sinilah letak akar permasalahan yang muncul di tengah euforia tren lari, aplikasi Fotoyu hadir dan dapat berpotensi mengubah kesenangan menjadi ancaman serius bagi privasi kita.

Perkembangan teknologi diera digital sekarang membuat fotografi bukan lagi sekadar karya seni, tetapi menjadi bagian dari lahan bisnis berbasis aplikasi. Salah satunya aplikasi Fotoyu. Fotoyu merupakan toko online khusus fotografi dokumentasi personal. aplikasi berbasis AI (Artificial Intelligence) atau Kecerdasan buatan yang membantu pengguna untuk menemukan foto mereka. Yang memungkinkaan seorang fotografer memotret dan menjual hasil foto mereka lalu diunggah melalui aplikasi digital ini.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Rakyat news| | | |