Kuliah Tamu Mata Kuliah Sosiologi Ruang dan Lingkungan di Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH), Universitas Negeri Makassar (UNM)
FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Dampak perubahan iklim semakin nyata dirasakan di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari krisis pangan, kerusakan ekosistem, hingga meningkatnya kerentanan sosial. Di tengah situasi tersebut, masyarakat adat dinilai memiliki peran strategis dalam menghadapi krisis iklim melalui pengetahuan lokal dan praktik pengelolaan lingkungan yang telah berlangsung lintas generasi.
Isu tersebut mengemuka dalam diskusi akademik yang digelar melalui Kuliah Tamu Mata Kuliah Sosiologi Ruang dan Lingkungan di Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH), Universitas Negeri Makassar (UNM), Jumat, (30/1/2026).
Isu tersebut mengemuka dalam diskusi akademik yang digelar melalui Kuliah Tamu Mata Kuliah Sosiologi Ruang dan Lingkungan di Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH), Universitas Negeri Makassar (UNM).
Dalam pemaparannya, Zaenal, Kepala Departemen Pengembangan Komunitas, Kemitraan, dan Inovasi Sulawesi Cipta Forum (SCF), menegaskan bahwa masyarakat adat bukan sekadar kelompok rentan yang terdampak perubahan iklim, melainkan aktor penting dalam strategi adaptasi dan mitigasi berbasis komunitas.
Menurutnya, berbagai praktik lokal yang dijalankan masyarakat adat terbukti mampu menjaga keseimbangan ekologi sekaligus menopang keberlanjutan hidup komunitas.
Strategi adaptasi tersebut meliputi penguatan sistem agroforestri adat, diversifikasi pangan lokal, pengelolaan air berbasis pengetahuan tradisional, penggunaan kalender musim berbasis tanda-tanda alam, serta konservasi benih lokal.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:















































