Agar hidup tidak terus dilanda kecemasan akan masa depan, kepemilikan asuransi tidak bisa ditawar. Salah satu asuransi yang bisa memberi rasa aman adalah Asuransi PELITABRI Life
Oleh: Psikolog, Danang Baskoro
FAJAR.CO.ID — Untuk bisa tumbuh, manusia membutuhkan kebahagiaan.
Untuk bisa bertahan, manusia membutuhkan rasa takut.
Kalimat ini terdengar sederhana, namun sesungguhnya menyimpan sebuah paradoks yang menarik. Pertanyaannya kemudian muncul: mana yang lebih dulu hadir—kesehatan mental atau emosi positif? Kesehatan fisik atau rasa syukur? Kesuksesan atau kebahagiaan?
Dalam pemahaman umum, kita sering meyakini bahwa kondisi ideal harus dicapai terlebih dahulu, baru setelah itu emosi positif akan menyusul. Orang yang sehat, misalnya, tentu lebih mudah merasa bahagia dibandingkan orang yang sakit. Seseorang yang hidup tanpa tekanan ekonomi akan lebih mudah tersenyum dibandingkan mereka yang bergulat dengan tumpukan tagihan.
Anggapan ini tidak sepenuhnya keliru. Namun, ia juga tidak sepenuhnya utuh.
Emosi Positif Tidak Selalu Menunggu Keadaan Ideal
Emosi positif tidak selalu harus lahir dari kondisi eksternal yang ideal—seperti situasi keluarga, lingkungan, atau kondisi finansial. Justru sebaliknya, emosi positif juga dapat menjadi pemicu terciptanya keadaan yang lebih baik.
Jika kondisi yang baik mampu melahirkan emosi positif, maka berlaku pula hukum sebaliknya: emosi positif mampu membentuk kondisi yang lebih baik.
Di titik inilah pertanyaan selanjutnya muncul: mengapa kita perlu repot-repot memelihara emosi positif? Apa gunanya?
Fungsi Emosi dalam Kehidupan Manusia
Emosi sejatinya adalah penanda kondisi psikologis yang sedang kita alami. Setiap emosi memiliki fungsi adaptif.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

















































