FAJAR.CO.ID - Rumah Sakit Tabanan di Bali menghadapi krisis serius akibat macetnya klaim BPJS sebanyak 9.000 berkas yang berimbas pada habisnya stok obat di depo rumah sakit. Persoalan ini dipicu oleh kesalahan input data selama masa transisi Rekam Medik Elektronik (RME) yang dimulai sejak Desember lalu.
Direktur RS Tabanan, dr. I Gede Sudiarta, menegaskan bahwa masa transisi ke sistem RME menjadi penyebab utama macetnya klaim BPJS yang menyebabkan utang rumah sakit kepada vendor obat menumpuk dan akhirnya stok obat menipis hingga habis.
Dokter Senior Ungkap Kekecewaan dan Larangan Berbicara soal Stok Obat
Dr. Ayu, dokter senior yang telah mengabdi selama 26 tahun di RS Tabanan, meluapkan kekecewaannya melalui rekaman voice note yang beredar. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi genting rumah sakit yang kehabisan obat dan utang yang menumpuk.
"Mohon maaf ini sebelumnya, rumah sakit mau dibawa kemana," katanya dalam rekaman tersebut.
"Satu per satu obat sudah tidak ada di depo kemungkinan karena kita tidak membayar utang kita sudah terlalu banyak," jelasnya.
Lebih jauh, Dr. Ayu menyampaikan bahwa staf rumah sakit dilarang berbicara dengan pasien mengenai kondisi stok obat yang menipis bahkan sampai habis.
"Sekarang yang terakhir citicoline yang tidak ada sedangkan kita tidak boleh bicara dengan pasien. Semua obat sudah tidak ada," bebernya.
"Biarkan saya disini menumpahkan isi hati saya sebagai dokter senior yang sudah bekerja 26 tahun. Entah apa yang menyebab saya tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang saya mau tahu adalah pelayanan terhadap pasien kita yang ada di rumah sakit," katanya penuh harap.


















































